Viviane Espine: Islam Mengubah Hidupku

JAKARTA — Viviana Espine tumbuh besar dalam keluarga yang kurang harmonis. Ayahnya seorang pemarah. Belum lagi masalah keuangan keluarganya menjadi rentetan panjang pengalaman pahit Viviana di masa kecilnya.

Oleh ibunya, ia disekolahkan di sekolah agama. Ia merasa nyaman karena terhindar dari persoalan keluarga. Viviana pun mulai berubah. Situasi itu membuatnya terpikir menjadi biarawati.

Sempat ia utarakan niatnya menjadi biarawati kepada ibunya. Ibunya menolak karena berharap Viviane menikah.

Namun, penolakan ibunya itu tak menyurutkan niatnya. Diam-diam dia dalami Injil. Intens membaca, banyak kontradiksi dalam isinya. Lantaran penasaran, Viviana mencoba mengali lebih dalam lagi alkitab/

Ia cari informasi di dunia maya. Di sana, ia temukan banyak informasi tentang Yudaisme, Budhisme, Agnostik, dan Kristen. Namun, ia belum juga mendapatkan jawabannya.

Mulailah Viviana mencari tentang Islam, karena semua hal buruk yang ia dengar tentang Islam membuatnya penasaran. Tapi pada akhirnya, ia memutuskan untuk mencari tahu tentang Islam sebagai opsi terakhirnya dalam menemukan jawabannya.

Ceritanya dimulai ketika ia mulai menyelidiki Islam, Viviana melihat jawaban atas pertanyaannya selama ini. Dan Islam masuk akal baginya, ia menemukan jawaban atas pertanyaannya tentang jumlah Tuhan.

“Mengapa saya tidak percaya pada utusan terakhir dari Tuhan ketika dia memiliki pesan yang sama dengan semua nabi yang lain datang? Semua ini membuat saya merasa bahwa akhirnya saya telah menemukan agama yang sebenarnya,” kata dia.

Pada saat Viviana menginjak usianya yang ke 18, dia memutuskan untuk mengubah agamanya menjadi Islam. Ia mengatakan keinginan tersebut pada ibunya. Viviana mengatakan kepada ibunya bahwa ia suka pergi ke Islamic Center dan belajar lebih banyak tentang Islam disana. Tetapi ibunya marah.

“Ibuku kesal dan dia mengatakan bahwa hanya orang Kristen yang bisa tinggal di rumahnya, dan jika aku serius memikirkan untuk mengubah agamaku, aku harus meninggalkan rumah itu,” kenangnya.

Karena penolakan dari ibunya ia mengurungkan niatnya dan mengatakan kepada ibunya bahwa ia hanya bercanda untuk membuatnya melupakan masalah ini. Ibunya menghubungi bibi Viviana, dan bibinya secara diam-diam membawakannya buku tentang Islam.

Ketika semakin membacanya Viviana menjadi takut dan ragu. Dan Viviana memutuskan menghentikan keinginannya untuk menjadi Muslim, tetapi tidak juga kembali pada agama Kristen karena ia tidak pernah merasa nyaman.

Saat ibunya jatuuh sakit, ia menderita kanker dan dokter mengatakan bahwa tidak akan hidup lebih dari seminggu mungkin satu bulan. Saat itu Viviana mencoba untuk berbicara dengannya tentang Islam lagi, dan memintanya untuk datang ke Center Islam untuk bertanya tentang keraguan dan ketakutan dari buku yang dibacanya.

Ibunya sangat terbuka hari itu dan dia menerimanya. Beberapa bulan setelah itu Viviana bertemu dengan seorang Muslim dan menikah segera setelah itu ia pindah ke Mesir. Dua impian terbesar dalam hidupnya adalah datang ke Mesir dan menikahi pria baik yang mencintainya, Tapi ia selalu berpikir bahwa itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Tetapi Tuhan memberikan semua yang ia inginkan. Suaminya mengenalkannya pada wanita yang luar biasa dengan pengetahuan, kesabaran, dan iman. Namanya adalah Raya, dan membantunya mengklarifikasi semua keraguan dan kesalahpahaman yang ia miliki tentang Islam.

Akhirnya saya mengambil syahadat pada hari Sabtu tanggal 30 Agustus 2009. Tapi saat itu Viviane belum siap sepenuhnya.

Pada Senin berikutnya semuanya berubah. Suaminya menceraikannya karena kesalahannya. Saat itu Viviana merasa bahwa dunia hancur berantakan. Dan saat itu hanya Raya yang dapat membantunya.

“Ibuku dulu memberitahuku bahwa manusia tidak pernah belajar sampai hal-hal buruk terjadi. Ini sangat benar. Semua masalah dengan suami saya membuat saya merasa perlu untuk mencari pertolongan di hadapan Allah (Allah) dan meminta ampunannya,”kata dia.

Viviane mulai mengubah cara berpakaian dan memakai jilbab, mengubah seluruh hidupnya.
“Saya ingin membuktikan kepada Tuhan, kepada pria yang saya cintai dan saya sendiri, bahwa saya adalah orang baru sekarang.”

“Setelah perceraian, alhamdulillah, suamiku telah memberiku secercah harapan bahwa dengan pertolongan Allah, kami bisa segera kembali bersama.”

“Itu adalah pelajaran yang telah mengubah hidupku dengan pasti.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *